← MONOGRAF UTAMA ARSIP RISET · NO. 01 / 28
MINGGU 1 · ANTROPOMETRI, DIMENSI TUBUH & STRUKTUR TAHAN GEMPA

Kenapa Rumah Bali Tidak Pakai Meteran Pabrik

RINGKASAN 60 DETIK
YANG SERING DIKIRA

Ukuran bangunan Bali sering dikira bisa dikonversi kaku ke sentimeter pabrik, misalnya 1 depa dianggap selalu sama dengan 170 sentimeter untuk siapa saja.

YANG SEBENARNYA

Sistem sikut arsitektur Bali (depa, asta/hasta, musti, rai, guli) diambil langsung dari tubuh pemilik rumah sendiri, bukan dari tukang atau standar ISO pabrik, dan hal ini justru dikonfirmasi oleh pengukuran antropometri lapangan modern yang hasilnya berdekatan dengan angka dalam naskah lama.

Bukan Angka Pabrik, tapi Tubuh Pemilik Rumah

Setiap kali saya membuka gambar kerja rumah Bali tradisional, saya diingatkan bahwa unit ukurnya bukan meter atau sentimeter, melainkan bagian tubuh: depa (rentangan tangan), asta atau hasta (dari siku ke ujung jari), dan musti (kepalan tangan). Dalam naskah rujukan arsitektur Bali disebutkan dengan tegas bahwa depa, tapak kaki, asta, musti, rai, nyari, dan guli dipakai sebagai ukuran dasar yang diambil dari bagian fisik pemilik atau penghuni bangunan itu sendiri, bukan dari tukang yang mengerjakannya.

Artinya, dua rumah dengan denah yang sama persis bisa punya ukuran fisik berbeda kalau pemiliknya berbeda tinggi badan atau rentang tangan. Ini bukan ketidaktelitian, justru sebaliknya: sistem ini dirancang supaya rumah pas dengan tubuh penghuninya, mirip prinsip ergonomi yang baru populer di dunia desain modern beberapa dekade terakhir.

Sikut Karang, Ukuran yang Lahir dari Rentangan Tangan

Salah satu istilah kunci dalam sistem ini adalah sikut karang, yaitu ukuran pekarangan rumah. Menurut kajian I Wayan Parwata dari Universitas Warmadewa, sikut karang merupakan ukuran dari pekarangan rumah tradisional Bali yang perwujudannya lahir dari rentangan tangan si pemilik. Luas tanah yang akan dipakai untuk membangun pun ikut mengikuti proporsi tubuh, bukan angka meter persegi yang dipatok dari luar.

Sistem ini juga menegaskan siapa yang jadi acuan ukur: bukan undagi (arsitek tradisional), bukan pula tukang bangunan, melainkan kepala keluarga atau pemilik rumah sendiri yang disebut sang momah atau pengangge. Kajian kritis atas naskah lontar menyebutkan bahwa sistem sikut bukan metrik pabrik, karena ukuran arsitektur Bali adalah sistem antropometri individual yang diturunkan dari tubuh fisik kepala keluarga atau pemilik rumah, bukan ukuran undagi dan bukan angka ISO.

Ketika Data Lapangan Membuktikan Naskah Lama

Yang membuat saya kagum, klaim dalam naskah lama ini ternyata bisa diuji secara ilmiah. Penelitian antropometri terhadap sekitar seratus orang Bali mencatat rata-rata ukuran musti sekitar 14,8 sentimeter, angka yang nyaris identik dengan estimasi di buku induk arsitektur tradisional Bali karya Ir. I Nyoman Gelebet dkk., yang menyebut kisaran serupa. Dua sumber, dua metode pengukuran berbeda, sampai pada angka yang nyaris sama.

Bagi saya, ini bukti sederhana bahwa leluhur Bali bukan sekadar mewariskan kebiasaan turun-temurun tanpa dasar, tapi sudah mempraktikkan semacam riset ergonomi jauh sebelum istilah itu ada. Rumah dirancang untuk manusia yang akan menghuninya, bukan manusia yang harus menyesuaikan diri dengan angka baku yang datang dari luar.

SUMBER — SETIAP TEKS DIVERIFIKASI MESIN KE BERKAS KORPUSNYA
VERSI VIDEO
Tonton pembahasannya di Instagram ↗
◀ SELURUH ARSIP NASKAH