← MONOGRAF UTAMA ARSIP RISET · NO. 15 / 28
MINGGU 3 · INTEGRASI DENGAN RANCANG BANGUN & PERKOTAAN MODERN

Merajan di Lantai Atas, Sahkah Menurut Naskah?

RINGKASAN 60 DETIK
YANG SERING DIKIRA

Banyak orang percaya menaruh sanggah atau merajan di lantai dua rumah bertingkat adalah pantangan besar, karena dianggap sebagai tindakan 'menginjak' ruang suci dari bawah.

YANG SEBENARNYA

Kajian naskah dan riset akademik arsitektur Bali justru menunjukkan logika sebaliknya: posisi yang paling tinggi dalam sebuah tapak selalu dipandang sebagai posisi paling utama (disebut Madu Muka), sehingga menempatkan tempat suci di lantai teratas rumah bertingkat sejalan dengan prinsip hulu-hilir, bukan pelanggaran terhadapnya.

Hulu Itu Soal Arah dan Ketinggian, Bukan Cuma Tanah

Dalam kajian ekologi arsitektur Asta Kosala Kosali, posisi tempat suci merajan atau sanggah dijelaskan mengikuti konsep yang disebut Madu Muka: tempat suci selalu diusahakan berada pada posisi yang paling tinggi, mengarah gunung, dan bisa 'melihat' posisi laut sebagai hilir. Prinsip ini dikenal sebagai Segara Giri, gabungan dari segara (laut) dan giri (gunung).

Artinya, sejak awal konsep hulu-teben dalam arsitektur Bali tidak pernah didefinisikan semata sebagai jarak mendatar dari gerbang pekarangan. Yang ditekankan adalah relasi ketinggian dan arah terhadap sumbu gunung-laut. Sebuah titik bisa disebut hulu justru karena ia lebih tinggi dan lebih dekat ke arah yang disucikan, bukan karena berada di ubin lantai dasar.

Ketika Lahan Menyempit, Ketinggian yang Bicara

Pada rumah tapak konvensional dengan pekarangan luas, hierarki hulu-teben mudah diwujudkan secara horizontal: sanggah di sudut kaja-kangin, dapur di sudut lain. Tetapi di lahan sempit perkotaan atau hunian bertingkat, ruang horizontal untuk memisahkan zona semacam itu jelas terbatas.

Di titik inilah argumen dari kajian naskah tradisional relevan untuk dibaca ulang. Sebuah catatan riset yang menelusuri rujukan lontar Nyukat & Nyakap Karang mencatat bahwa penempatan merajan di atas rumah bertingkat adalah sah dan dibenarkan secara teologis karena posisinya tetap yang tertinggi dan paling hening mendekati alam dewata. Argumennya konsisten dengan logika Segara Giri di atas: yang dicari adalah ketinggian dan kesunyian relatif, bukan koordinat lantai satu yang persis meniru denah rumah tapak.

Yang Tetap Perlu Dijaga di Lantai Atas

Membenarkan merajan di lantai atas bukan berarti segalanya boleh diabaikan. Arah tetap diusahakan mengarah kaja-kangin sejauh orientasi bangunan memungkinkan, akses menuju ruang suci sebaiknya tidak bercampur dengan sirkulasi servis, dan tidak ada ruang basah atau ruang kotor yang ditempatkan tepat di atas titik tersebut pada rumah bertingkat lebih dari dua lantai.

Poin ini penting justru karena argumen 'sah menurut naskah' sering dipahami sepotong, seolah semua syarat lain otomatis gugur begitu merajan naik ke lantai atas. Padahal logika yang membenarkan kenaikan posisi itu sama persis dengan logika yang tetap mensyaratkan kebersihan dan kesunyian ruang tersebut: keduanya soal menjaga titik tertinggi dan paling hening tetap layak disebut hulu.

SUMBER — SETIAP TEKS DIVERIFIKASI MESIN KE BERKAS KORPUSNYA
◀ SELURUH ARSIP NASKAH