Tri Hita Karana Bukan Sekadar Slogan di Baliho
- ▸Tri Hita Karana punya padanan spasial yang konkret: parahyangan, pawongan, palemahan.
- ▸Pola tiga unsur ini berulang dari skala rumah, banjar, sampai desa — bukan konsep sekali pakai.
- ▸Konsep ini secara eksplisit dikaitkan dengan keselarasan hubungan lingkungan, manusia, dan Tuhan.
Tri Hita Karana sering dianggap semata jargon pariwisata — kata-kata indah yang ditempel di brosur vila atau sambutan resmi, tanpa wujud teknis apa pun ketika bangunan itu benar-benar digambar dan dibangun.
Dalam kajian arsitektur tradisional Bali, Tri Hita Karana justru diterjemahkan langsung menjadi tiga unsur yang bisa ditunjuk di atas denah: parahyangan (unsur jiwa/tempat suci), pawongan (unsur tenaga/penghuni), dan palemahan (unsur fisik/wilayah pekarangan). Ketiganya bukan metafora, melainkan kerangka penataan ruang yang berulang dari skala rumah tangga sampai skala desa.
Tiga Kata, Satu Denah
Coba bayangkan pekarangan rumah Bali yang masih memegang pakem lama: ada sanggah di sudut yang dianggap paling utama, ada area tempat tinggal keluarga, dan ada batas pekarangan yang jelas dari tetangga maupun jalan. Tiga zona itu bukan kebetulan tata letak yang enak dipandang — itu adalah wujud harfiah dari Tri Hita Karana.
Jurnal filosofi tata ruang Asta Kosala Kosali mencatat bahwa masyarakat 'dikenal dengan konsep TriHita Karana yang terdiri dari unsur jiwa, tenaga dan fisik atau nisa dikaitkan dengan Parahyangan, Pawongan dan Palemahan.' Jiwa diwakili tempat suci, tenaga diwakili penghuninya, dan fisik diwakili wilayah pekarangannya sendiri.
Bukan Hanya Rumah — Skala yang Berulang
Yang membuat konsep ini kokoh secara akademik adalah karena ia tidak berhenti di level satu rumah. Kajian perumahan tradisional Bali menjelaskan bahwa pola jiwa-tenaga-fisik ini diturunkan berulang: pada rumah, jiwanya adalah sanggah pemerajan, tenaganya penghuni, fisiknya pekarangan; pada banjar, jiwanya pura banjar, tenaganya warga banjar, fisiknya wilayah banjar; pada desa, jiwanya kahyangan tiga, tenaganya warga desa, fisiknya wilayah desa.
Naskah yang sama menyebut bahwa konsep itu melahirkan 'hubungan yang harmonis antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit, Manik Ring Cucupu, Tri Hita Karana, Tri Angga, Hulu-Teben sampai kepada melahirkan tata nilai Sanga Mandala yang memberi arahan tata ruang, baik dalam skala rumah (umah) maupun perumahan (desa).' Artinya, satu logika yang sama dipakai untuk merancang kamar tidur sekaligus merancang tata desa.
Kenapa Ini Bukan Sekadar Jargon
Definisi yang beredar di banyak materi pemasaran biasanya berhenti di terjemahan longgar 'harmoni manusia-alam-Tuhan'. Padahal jurnal yang sama menuliskannya lebih spesifik sebagai konsep yang 'menumbuhkan keselarasan hubungan antara lingkungan,manusia dan tuhan' — tiga pihak yang disebut eksplisit, bukan satu kalimat puitis yang bisa ditafsirkan bebas.
Ketika sebuah rancangan benar-benar menempatkan area sakral, area huni, dan batas lingkungan pada posisi serta proporsi yang saling menghormati, di situlah Tri Hita Karana bekerja secara teknis — jauh sebelum kata itu jadi tagline pemasaran.
-
Dwijendra — Perumahan & Natah Arsitektur BaliDwijendra, Perumahan dan Permukiman Tradisional Bali, Jurnal Natah Vol. 1 No. 1 (2003)
"hubungan yang harmonis antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit, Manik Ring Cucupu, Tri Hita Karana, Tri Angga, Hulu-Teben sampai kepada melahirkan tata nilai Sanga Mandala yang memberi arahan tata ruang, baik dalam skala rumah (umah) maupun perumahan (desa)."
-
Sari & Kusuma (2020), Nilai Filosofis Tata Ruang AKKSari & Kusuma (2020), Nilai Filosofis Tata Ruang Asta Kosala Kosali, SPHATIKA Jurnal Teologi Vol. 11 No. 1
"konsep Tri Hita Karana (menumbuhkan keselarasan hubungan antara lingkungan,manusia dan tuhan)"
-
Sari & Kusuma (2020), Nilai Filosofis Tata Ruang AKKSari & Kusuma (2020), ibid.
"dikenal dengan konsep TriHita Karana yang terdiri dari unsur jiwa, tenaga dan fisik atau nisa dikaitkan dengan Parahyangan, Pawongan dan Palemahan."