Kejujuran Material: Kenapa Paras dan Kayu Dibiarkan Apa Adanya
- ▸Ada prinsip bernama Lelengisan: membiarkan permukaan kayu atau batu padas polos untuk menonjolkan ketelitian sambungan purus-pasak dan tekstur batu alam.
- ▸Dinding secara struktural memang hanya berfungsi sebagai pemisah ruangan, bukan pemikul beban; beban bangunan disalurkan tiang ke pondasi jongkok asu.
- ▸Pemilihan jenis kayu pun dibedakan sesuai fungsi bangunan, bukan asal pakai kayu apa saja yang tersedia.
Ukiran yang memenuhi seluruh permukaan dinding dan tiang sering dianggap sebagai satu-satunya ukuran 'niat baik' atau kesungguhan sebuah bangunan Bali.
Catatan dokumentasi arsitektur tradisional Bali justru mencatat adanya prinsip Lelengisan, yaitu membiarkan permukaan kayu dan batu padas polos tanpa ukiran untuk menonjolkan ketelitian sambungan dan tekstur material alami itu sendiri — sebuah bentuk kejujuran struktur yang jauh lebih tua dari istilah arsitektur modern mana pun.
Lelengisan: Polos Bukan Berarti Belum Selesai
Dalam dokumentasi ragam hias arsitektur tradisional Bali, dikenal kategori bernama Lelengisan, yang secara harfiah berarti membiarkan permukaan material polos. Catatan itu menyebutkan permukaan kayu/batu padas polos tanpa ukiran yang hanya menonjolkan ketelitian sambungan purus-pasak, kehalusan serutan kayu jati/nangka, dan tekstur batu alam.
Ini artinya, jauh sebelum ada istilah 'kejujuran material' dalam wacana arsitektur modern, praktik membiarkan sambungan kayu dan tekstur batu terlihat apa adanya sudah punya tempatnya sendiri dalam sistem ragam hias Bali. Polos di sini bukan tanda pekerjaan belum tuntas, melainkan pilihan sadar untuk membiarkan kualitas pertukangan bicara sendiri.
Dinding Cuma Penyekat, Tiang yang Menahan Beban
Kejujuran struktur ini juga terlihat pada bagaimana bangunan tradisional Bali sebenarnya bekerja secara struktural. Sebuah kajian sistem konstruksi bangunan tradisional Bali mencatat bahwa fungsi tembok atau dinding hanya sebagai pemisah ruangan, tidak berfungsi sebagai pemikul beban, sedangkan beban bangunan diteruskan ke tanah oleh tiang-tiang lewat pondasi jangkok Asu.
Prinsip ini persis sama dengan logika struktur rangka pada bangunan modern: kolom yang menahan beban, dinding yang hanya mengisi dan menyekat. Bedanya, arsitektur Bali sudah menerapkannya jauh sebelum istilah 'struktur rangka' populer, dan itu terlihat jelas dari cara tiang-tiang dibiarkan tampil sebagai elemen struktural yang jujur, bukan disembunyikan di balik dinding masif.
Kayu Dipilih Sesuai Fungsi, Bukan Sekadar yang Ada
Kejujuran material juga terlihat dari cara pemilihan jenis kayu. Dokumentasi konstruksi bale mencatat bahwa kayu cendana, menengen, cempaka, kuanitan dan majegau dipergunakan pada bangunan suci, sementara jenis kayu lain dipakai untuk bangunan lumbung dan dapur. Pembedaan ini menunjukkan bahwa pemilihan material sejak awal memang disesuaikan dengan fungsi dan tingkat kepentingan bangunan, bukan sekadar memakai kayu apa saja yang kebetulan tersedia.
Untuk bangunan masa kini, pelajaran yang bisa diambil bukan soal harus memakai jenis kayu yang sama persis, melainkan soal caranya berpikir: biarkan material menunjukkan dirinya sendiri, sesuaikan pilihan material dengan fungsi ruang, dan jangan buru-buru menutupi sambungan struktural dengan lapisan finishing yang justru menyembunyikan kualitas pengerjaannya.
-
Ir. I Nyoman Gelebet dkk. (1985), Arsitektur Tradisional Daerah BaliI Nyoman Gelebet dkk. (1985), "Arsitektur Tradisional Daerah Bali" — kategori ragam hias Lelengisan
"Permukaan kayu/batu padas polos tanpa ukiran yang hanya menonjolkan ketelitian sambungan purus-pasak, kehalusan serutan kayu jati/nangka, dan tekstur batu alam."
-
Riset internal — Sikut & Besaran BaleMercu Mahadi & I Nyoman Ngidep Wiyasa, ISI Denpasar, mengutip Gelebet (1985) — sistem konstruksi bangunan tradisional Bali — dikutip di riset internal B — sikut bale
"Fungsi tembok/dinding hanya sebagai pemisah ruangan, tidak berfungsi sebagai pemikul beban. Sedangkan beban bangunan diteruskan ke tanah oleh tiang-tiang lewat pondasi jangkok Asu."
-
Riset internal — Sikut & Besaran BaleI Gede Mugi Raharja, ISI Denpasar — material bangunan rumah tinggal tradisional Bali madya — dikutip di riset internal B — sikut bale
"Kayu cendana, menengen, cempaka, kuanitan dan majegau dipergunakan pada bangunan suci"