Septic Tank di Zona Nistaning Nista: Logika Hulu-Hilir Air
- ▸Zona nistaning nista (arah Kelod-Kauh) secara tradisional memang diperuntukkan bagi kegiatan yang dianggap kotor atau sibuk, berlawanan arah dengan zona suci di Kaja-Kangin.
- ▸Kandang ternak dan kotoran secara eksplisit disebut menempati segmen nista, terpisah dari segmen sakral tempat merajan berada.
- ▸Bahkan area teba di belakang pekarangan yang secara tradisional dipakai untuk beternak menunjukkan pola panjang: aktivitas penghasil limbah selalu diarahkan menjauh dari hulu.
Sering dianggap bahwa penempatan toilet dan area kotor di pekarangan Bali cuma soal derajat kesucian ruang, tidak ada urusan dengan air tanah atau sanitasi sama sekali.
Catatan akademik arsitektur Bali justru memperlihatkan bahwa pembagian zona utama-madya-nista sejak awal secara konsisten menaruh aktivitas 'kotor' pada satu segmen yang sama, searah dengan arah hilir, sebuah pola yang persis sejalan dengan prinsip modern menjaga hulu air tanah dari pencemaran limbah.
Nistaning Nista Bukan Sekadar Label Rendah
Dalam pembagian ruang Sanga Mandala, kegiatan yang dianggap utama dan memerlukan ketenangan diletakkan pada daerah utamaning utama (kaja-kangin), sementara kegiatan yang dianggap kotor atau sibuk diletakkan pada daerah nistaning nista (kelod-kauh), sedangkan kegiatan yang berada di antara keduanya diletakkan di tengah.
Pembagian ini konsisten diterapkan pada berbagai skala, dari skala desa sampai skala rumah tangga. Pada skala rumah, elemen ruang yang paling sakral seperti Merajan ditempatkan pada segmen sakral, yaitu kaja-kangin, sedangkan tempat tidur dan tempat bekerja ada di segmen madya, dan kandang ternak atau kotoran ditempatkan pada segmen nista.
Teba: Zona Nista yang Sudah Lama Menampung 'Limbah'
Bukti bahwa segmen nista memang dari dulu difungsikan menampung aktivitas penghasil kotoran bisa dilihat dari teba, ruang terbuka di bagian belakang pekarangan. Catatan riset arsitektur mendokumentasikan bahwa secara turun-temurun teba dimanfaatkan sebagai lahan untuk berkebun tanaman obat, tanaman pangan, dan tanaman untuk kebutuhan upacara, sekaligus dicatat bahwa bagi beberapa masyarakat teba merupakan area yang sangat ideal untuk berternak ayam, babi ataupun sapi.
Beternak berarti ada kotoran hewan yang harus dikelola. Menariknya, area ini secara konsisten ditempatkan di segmen nista yang sama, jauh dari arah hulu tempat air bersih biasanya diambil.
Kenapa Logika Ini Relevan untuk Septic Tank Sekarang
Septic tank dan toilet modern pada dasarnya menghadapi persoalan yang sama seperti kandang ternak dan area kotor di masa lalu: sesuatu yang menghasilkan limbah cair harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mencemari sumber air yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Menempatkan septic tank di zona nistaning nista, yaitu di sisi Kelod-Kauh dan sejauh mungkin dari sumur atau titik pengambilan air, bukan sekadar mengikuti tradisi secara membabi buta. Itu adalah kelanjutan logis dari pola yang sama: jaga jarak antara sumber pencemaran dan sumber air, dengan arah hulu-hilir sebagai pedoman orientasinya.
-
Riset internal — Lontar Asta BumiMengutip Sulistyawati dkk. (1985:10), dicatat dalam riset Asta Bumi B-03 — dikutip di riset internal A — Asta Bumi
"kegiatan yang dianggap utama, memerlukan ketenangan diletakkan pada daerah utamaning utama (kajakangin), kegiatan yang dianggap kotor/sibuk diletakkan pada daerah nistaning nista (klodkauh), sedangkan kegiatan diantaranya diletakkan di tengah (Sulistyawati. dkk, 1985:10)"
-
Riset internal — Lontar Asta BumiNgakan Ketut Acwin Dwijendra, Jurnal Natah Universitas Udayana, dicatat dalam riset Asta Bumi B-04 — dikutip di riset internal A — Asta Bumi
"Elemen ruang yang paling sakral seperti Merajan (pura rumah tangga) ditempatkan pada segmen sakral (utama), yaitu kaja-kangin. Meten (tempat tidur), dan tempat bekerja ditempatkan pada segmen madya, kandang ternak atau kotoran ditempatkan pada segmen nista."
-
Riset internal — Lontar Asta BumiCokorda Istri Arina Cipta Utari, "Perubahan Fungsi Teba di Pekarangan Desa Nyuh Kuning", Jurnal Lanskap Universitas Udayana — dikutip di riset internal A — Asta Bumi
"Oleh masyarakat Bali secara turun-temurun biasanya teba dimanfaatkan sebagai lahan untuk berkebun dalam mengolah berbagai tanaman obat-obatan tradisional, tanaman pangan dan tanaman untuk kebutuhan upacara keagamaan. Bagi beberapa masyarakat teba merupakan area yang sangat ideal untuk berternak ayam, babi ataupun sapi."