← MONOGRAF UTAMA ARSIP RISET · NO. 26 / 28
MINGGU 4 · UNDAGI, FILOSOFI HIDUP & REFLEKSI MASA DEPAN

Kesenjangan Generasi di Balik Ragunya Memakai Asta Kosala Kosali

RINGKASAN 60 DETIK
YANG SERING DIKIRA

Ada anggapan bahwa mahasiswa dan lulusan arsitektur muda enggan memakai Asta Kosala Kosali karena mereka malas belajar budaya sendiri atau tidak peduli pada tradisi leluhur.

YANG SEBENARNYA

Persoalannya sudah diakui sejak naskah kanonik 1985: ada kesulitan nyata memindahkan pengetahuan arsitektur tradisional dari generasi pemegangnya ke generasi penerus, ditambah kehadiran teknologi baru yang membawa nilai berbeda. Persoalan itu diperparah kesalahpahaman bahwa sistem sikut adalah ritual klenik, padahal ia adalah sains terapan yang bisa dijelaskan secara teknis.

Bukan Malas, Tapi Terputus

Sebelum buru-buru menyalahkan generasi muda, ada baiknya kita menengok apa yang sudah ditulis sejak lama. Buku kanonik arsitektur tradisional Bali tahun 1985 sendiri sudah mengakui adanya 'masalah khusus' yang dialami dari dua arah sekaligus: dari dalam, ia mencatat 'kesukaran untuk memindahkan pengetahuan Arsitektur Tradisional dari generasi pemegang ke generasi penerusnya'; dari luar, disebutkan 'kehadiran teknologi yang membawa nilai-nilai baru dengan segala kemungkinan yang ditimbulkannya.'

Empat puluh tahun sebelum perdebatan soal 'anak muda tidak peduli tradisi' ramai di media sosial, penulis buku itu sudah lebih dulu menaruh persoalan ini bukan pada niat generasi muda, melainkan pada mekanisme pewarisan yang memang berat — naskah lontar ditulis dalam aksara yang kemampuan membacanya terbatas pada segelintir orang, dan istilah-istilah undagi tidak diajarkan luas di ruang kelas formal.

Ketika Sikut Dikira Klenik

Ada lapisan kesalahpahaman kedua yang membuat keraguan ini makin dalam: anggapan bahwa aturan-aturan sikut itu semacam ritual tanpa dasar logis. Kajian ergonomi personal Asta Kosala Kosali menegaskan hal sebaliknya secara gamblang: 'Banyak orang mengira aturan menambahkan seujung jari (aguli) atau lebar kaki (tampak ngandang) pada setiap ukuran adalah ritual klenik. Ini adalah kekeliruan besar!'

Toleransi ukuran semacam itu, yang dikenal sebagai pengurip, punya alasan fisika yang bisa dijelaskan — soal muai-susut kayu tropis dan kenyamanan psikologis ruang. Kalau seorang calon arsitek menganggap ini sekadar mitos karena belum pernah dijelaskan logikanya, itu bukan kesalahan dia sendirian — itu kesenjangan dalam cara ilmu ini diwariskan.

Pesan untuk yang Masih Ragu

Bagi yang masih menahan diri memakai Asta Kosala Kosali dalam praktiknya karena khawatir dianggap kuno atau tidak ilmiah, ada satu pengingat sederhana yang relevan: 'Jangan pernah merasa arsitektur warisan leluhur kita ketinggalan zaman. Ketika dunia baru belajar tentang ergonomi di abad ke-20, Bali sudah mempraktekkannya dengan sempurna sejak abad ke-11.'

Meragukan sesuatu karena belum paham logikanya itu wajar dan sehat — justru itu awal dari sikap ilmiah. Tapi meragukan sesuatu semata karena dianggap kuno, tanpa pernah menelusuri datanya, adalah kesenjangan yang bisa kita perbaiki pelan-pelan, satu naskah dan satu jurnal pada satu waktu.

SUMBER — SETIAP TEKS DIVERIFIKASI MESIN KE BERKAS KORPUSNYA
◀ SELURUH ARSIP NASKAH