← MONOGRAF UTAMA ARSIP RISET · NO. 25 / 28
MINGGU 4 · UNDAGI, FILOSOFI HIDUP & REFLEKSI MASA DEPAN

Pohon yang Ditebang Harus 'Diganti' Menurut Kode Undagi

RINGKASAN 60 DETIK
YANG SERING DIKIRA

Banyak yang mengira menebang pohon untuk bahan bangunan suci itu bebas nilai — asal tujuannya membangun pura atau sanggah, pohon apa pun boleh ditebang kapan saja tanpa syarat tambahan.

YANG SEBENARNYA

Lontar Asta Kosala Kosali justru mensyaratkan protokol berlapis sebelum sebatang pohon boleh ditebang: dialog ritual meminta izin kepada pohon dan penghuninya, serta pembatasan jenis kayu yang boleh dipakai berdasarkan hierarki simbolik tertentu. Nilai pohon yang diambil 'dibayar kembali' lewat penghormatan ritual dan pembatasan pilihan itu — bukan diambil begitu saja tanpa konsekuensi apa pun.

Menebang Bukan Mengambil Cuma-Cuma

Sebelum kapak pertama menyentuh batang pohon, undagi tradisional punya tahapan yang harus dilalui: memohon izin, menentukan hari baik, dan yang paling menarik — berdialog langsung dengan pohon yang akan ditebang. Naskah mencatatnya secara spesifik: 'Dengan menepuk tiga kali pohon yang akan ditebang dialog langsung dengan pohon, penghuni dan penguasanya dengan bahasa komunikasi mentra-mentra dialog ritual.'

Coba bayangkan implikasinya: pohon di sini diperlakukan bukan sebagai bahan baku pasif, melainkan sebagai pihak yang punya 'penghuni' dan 'penguasa' sendiri yang harus diajak bicara. Ini kerangka yang menempatkan tindakan menebang sebagai negosiasi, bukan pengambilan sepihak.

Tidak Semua Kayu Setara

Bagian kedua dari kode etik ini adalah pembatasan jenis kayu. Untuk bangunan suci seperti merajan atau sanggah, tidak semua kayu boleh dipakai begitu saja. Kajian ekologi arsitektur mencatat kutipan lontar yang menjelaskan bahwa 'kayu yang baik dipergunakan adalah kayu cendana sebagai simbul prabhu/ raja, kemudian kayu manengen, kayu cempaka, kayu kwanitan, kayu majegau dan kayu suren.'

Susunan itu bukan daftar acak — ia mengikuti hierarki simbolik yang menempatkan jenis kayu tertentu setara dengan kedudukan sosial tertentu. Artinya, sebelum bicara soal kekuatan struktur, sistem ini sudah lebih dulu membatasi pilihan lewat pertimbangan nilai — sebuah bentuk pengereman yang mencegah penebangan sembarangan atas nama kepraktisan semata.

Ke Mana 'Nyawa' Pohon Itu Kembali

Yang membuat kerangka ini terasa utuh secara filosofis adalah bagaimana kematian pohon dimaknai. Terjemahan lontar yang dikutip dalam kajian yang sama menyebutkan bahwa 'Matinya pohon kayu, kembalkan kepada purusa yaitu angkasa.' Pohon yang ditebang tidak dianggap lenyap begitu saja — keberadaannya 'dikembalikan' ke asalnya, sebuah siklus timbal balik yang menolak gagasan bahwa alam adalah sumber daya yang habis dipakai lalu dilupakan.

Di titik inilah 'diganti' dalam judul artikel ini paling tepat dipahami: bukan secara harfiah menanam satu bibit pengganti untuk satu pohon yang ditebang — itu klaim yang tidak kami temukan di naskah — melainkan sebuah utang yang harus dilunasi lewat penghormatan ritual, pembatasan pilihan, dan pengakuan bahwa yang diambil dari alam harus dikembalikan maknanya kepada alam.

SUMBER — SETIAP TEKS DIVERIFIKASI MESIN KE BERKAS KORPUSNYA
◀ SELURUH ARSIP NASKAH