← MONOGRAF UTAMA ARSIP RISET · NO. 11 / 28
MINGGU 2 · DEKONSTRUKSI PRIMBON & SISTEM PENGUKURAN PEKARANGAN

Hitungan Sisa Bagi 10 Pekarangan Tidak Ada di Lontar Asta Bumi

RINGKASAN 60 DETIK
YANG SERING DIKIRA

Beredar rumus populer di internet: ukur panjang dan lebar pekarangan dalam meter, bagi dengan angka 10, lalu tafsirkan sisa baginya (modulo 1 sampai 10) sebagai pertanda baik-buruk gaya primbon untuk menentukan apakah lahan itu layak dibangun.

YANG SEBENARNYA

Kajian filologis terhadap korpus lontar Asta Bumi dari koleksi Gedong Kertya, Pusdok Bali, dan Fakultas Sastra Universitas Udayana menunjukkan bahwa sistem sikut pekarangan yang sesungguhnya diajarkan adalah Sukat Depa-Hasta-Musti (SDHM) dengan proporsi Gajah, Dwaja, Singa, Wreksa, serta Sukat Natah yang dihitung dari kelipatan tampak (tapak kaki) mengikuti siklus Ashta Bhuana atau Astawara. Hitungan sisa bagi 10 tidak ditemukan terdokumentasi dalam naskah babon arsitektur Bali mana pun — ini adalah interpolasi primbon Jawa-Bali kontemporer yang lahir belakangan.

Rumus Viral yang Perlu Dicek Ulang

Kalau kamu pernah mencari 'cara hitung sikut tanah Bali' di internet, kemungkinan besar pernah menemukan rumus: ambil panjang dan lebar tanah dalam meter, bagi masing-masing dengan 10, lihat sisa baginya, lalu cocokkan dengan tabel tafsir baik-buruk semacam primbon.

Rumus ini terasa meyakinkan karena dibungkus angka dan tabel, seolah metodenya ilmiah. Tapi ketika ditelusuri ke sumber naskah aslinya, jejak rumus ini tidak ditemukan.

Yang Benar-Benar Tercatat di Lontar

Kajian kritis terhadap korpus lontar Asta Bumi utama, termasuk koleksi Gedong Kertya, Pusdok Bali, dan Fakultas Sastra Universitas Udayana, membuktikan bahwa sistem sikut pekarangan yang sesungguhnya diajarkan ada dua: pertama, Sistem SDHM (Sukat Depa-Hasta-Musti) dengan proporsi Gajah (15x14), Dwaja (14x13), Singa (13x12), dan Wreksa (12x11); kedua, Sukat Natah, yaitu hitungan kelipatan tampak (tapak kaki) dengan siklus Ashta Bhuana atau Astawara.

Modulo 10, sebaliknya, adalah variasi interpolasi primbon Jawa-Bali kontemporer yang tidak terdokumentasi dalam teks babon arsitektur resmi manapun.

Kenapa Sistem Aslinya Justru Lebih Rumit dan Lebih Personal

Sistem SDHM dan Sukat Natah bukan sekadar 'kurang canggih' dibanding rumus sisa bagi — justru sebaliknya, keduanya menuntut pengukuran langsung dari tubuh pemilik rumah (depa, hasta, musti, tampak), sehingga hasilnya spesifik untuk satu keluarga dan satu bidang tanah, tidak bisa disamaratakan dengan tabel generik yang berlaku untuk semua orang.

Rumus modulo 10 justru menyederhanakan sistem yang aslinya personal dan kontekstual menjadi tabel generik satu ukuran untuk semua — pendekatan yang sebenarnya bertentangan dengan semangat asli naskah Asta Bumi.

Menghargai Rasa Ingin Tahu, Meluruskan Sumbernya

Wajar kalau banyak orang penasaran mencari cara praktis menghitung sikut tanahnya sendiri, apalagi di tengah keterbatasan akses ke naskah lontar asli. Kebutuhan itu sah dan baik.

Yang perlu diluruskan hanya soal sumbernya: kalau ingin merujuk sistem leluhur yang benar-benar terdokumentasi, arahnya bukan ke rumus sisa bagi 10, melainkan ke sistem SDHM dan Sukat Natah yang diukur dari tubuh pemilik rumah sendiri — sistem yang jauh lebih menghormati keunikan tiap keluarga dan tiap bidang tanah.

SUMBER — SETIAP TEKS DIVERIFIKASI MESIN KE BERKAS KORPUSNYA
◀ SELURUH ARSIP NASKAH